Register Login

Lebaran Dan Tradisi Mudik

Lebaran Dan Tradisi Mudik Mudik adalah kegiatan yang dilakukan oleh para perantau/ pekerja migran untuk kembali ke kampung halamannya. Mudik di Indonesia identik dengan tradisi tahunan yang terjadi menjelang hari raya besar keagamaan misalnya menjelang Lebaran. Pada saat itulah kesempatan yang paling pas untuk berkumpul dengan sanak saudara yang tersebar di perantauan, selain tentunya juga sowan dengan orang tua dan kerabat-kerabat. Tradisi mudik massal ini ternyata hanya ada di Indonesia lho. Coba bayangkan penduduk Jakarta yang kurang lebih jumlahnya mencapai 10juta jiwa ini, hampir separuhnya bahkan lebih serentak mudik massal ke kampung halamannya ke seluruh penjuru Indonesia. Bisa dikatakan kemacetan dan keruwetan serta hingar-bingar manusia yang dengan aktivitasnya terhenti sesaat dan menjadi sepi. Hal itulah yang dirasakan warga Jakarta yang memilih tidak mudik di hari Lebaran. Tempat-tempat yang biasanya setiap hari macet serta ramai tidak terlihat di beberapa hari lebaran ke depan.

Tradisi mudik merupakan kebiasaan yang masih belum tergantikan meski dengan adanya teknologi telekomunikasi seperti handphone untuk mengucapkan selamat hari Idul Fitri. Mudik merupakan kesempatan untuk bertemu sanak keluarga dan sekaligus merayakan Idul Fitri bersama-sama keluarga di kampung halaman. Ada beberapa alasan mengapa masyarakat Indonesia sulit meninggalkan tradisi mudik. Pertama, mudik merupakan salah satu jalan mencari berkah dengan bersilaturahmi kepada orang tua, kerabat, dan tetangga. Kedua, sebagai pengingat asal usul daerah bagi mereka yang merantau. Ketiga, tradisi mudik bagi perantau di Ibu kota adalah saat untuk menunjukkan eksistensi keberhasilannya di kota. Selain itu, juga ajang berbagi kepada sanak saudara yang telah lama ditinggal untuk ikut merasakan keberhasilannya dalam merantau. Keempat, mudik adalah terapi psikologis memanfaatkan libur lebaran untuk berwisata setelah setahun sibuk dalam rutinitas pekerjaan sehingga saat masuk kerja kembali memiliki semangat baru.

Namun itu merupakan gambaran indahnya mudik yang dapat didasarkan pada teori ringkasnya. Pada kenyataan sesungguhnya mudik yang masif ini seringkali tidak didukung oleh manajemen transportasi pendukung secara baik. Masih saja banyak keluhan tentang tidak mendapatkan tiket bagi calon penumpang, bahkan sebelum puasa pun ketika pembelian tiket sudah mulai dibuka banyak penumpang yang akan memesan tiket mengeluh tidak mendapatkan. Coba bayangkan apabila mengantri tiket di H min 7, bisa dibayangkan seperti apa kejadiannya. Belum lagi kontrol pemerintah dalam hal tarif ongkos transportasi pulang mudik yang dinaikkan secara sepihak oleh oknum-oknum dalam mempergunakan kesempatan tradisi mudik ini. Cukup miris melihat tayangan televisi ketika banyak penumpang yang notabene nya perempuan dengan balita harus berebut untuk masuk ke dalam gerbong kereta api menuju kampung halamannya. Bagi yang memilih mudik dengan menggunakan kendaraan pribadi seperti mobil keadaannya lebih baik dari pada yang menggunakan transportasi umum. Masalah pemudik dengan kendaraan pribadi hanya di seputaran macet di lokasi-lokasi pasar tumpah yang banyak di gelar dadakan di jalan-jalan utama khususnya di pulau Jawa yakni di jalur Selatan dan Utara atau di jalur alternatif lainnya. Sekarang ini juga semakin marak tren menggunakan transportasi motor untuk mudik. Namun hal ini cukup beresiko bagi anda beserta penumpang, karena motor memiliki resiko kecelakaan yang cukup tinggi dibandingkan dengan kendaraan lain. Sebenarnya pihak berwajib dalam hal ini Polisi sudah melakukan sosialisasi tentang tidak idealnya kendaraan roda dua untuk mudik. Karena kendaraan roda dua tidak didesain untuk perjalanan jauh. Namun apa boleh dikata hal tersebut cuma sebagai slogan buat mereka yang tidak memiliki pilihan transportasi yang memadai menurut penilaian mereka. Penggunaan kendaraan roda dua di samping lebih murah juga sangat efektif untuk digunakan sebagai kendaraan mengunjungi sanak saudara di kampung halaman. Oh iya tradisi mudik ini juga membawa berkah bagi daerah-daerah tujuan pemudik, dimana di daerah tersebut para pemudik akan lebih sering berbelanja oleh-oleh untuk dibawa kembali ke kota.

Tradisi ini ditutup juga dengan arus balik atau kembalinya para pemudik dari kampung asalnya kembali ke kota-kota besar di Indonesia. Tradisi ini juga tak kalah ruwetnya dengan mudik, karena secara periodik para pemudik mulai meninggalkan kota asalnya. Biasanya para pemudik ini menjadi rule model bagi para penduduk kampung tempat asalnya untuk merantau ke kota. Hal tersebut sesungguhnya tidak dilarang bagi siapa pun untuk mengadu nasib di Jakarta, namun dengan bekal keterampilan yang cukup dan kepastian kerja yang jelas. Sebab tidak ada larangan bagi siapa pun untuk datang di ibukota ini selama memenuhi syarat di atas. Selamat Mudik ! (Roy)




27 Juli 2012 - 14:08:47 WIB

Dibaca : 830

SHARE