Register Login
namanya, terlambat datang di tempat perlombaan dan tidak ada persiapan apa-apa, beliau hanya memasukkan bubur-bubur yang tidak habis dijualnya tadi pagi ke dalam beberapa mangkok untuk dicicipi oleh para Dewan Juri. Ketika mengumumkan nama pemenang oleh pembawa acara dikatakan bahwa Sang Champion (Juara) lomba kreasi membuat bubur adalah Amai Zona. Ketika ditanyakan pada si nenek apa nama buburnya tersebut, sang nenek dengan bangga dan spontan menyebutnya Bubua Kampiun (Champion maksudnya), maka jadilah sampai sekarang bubur tersebut dinamai Bubur Kampiun, bubur sang juara. (Sumber: Minang Forum) Bubur kampiun sendiri memiliki komposisi isi yang cukup banyak di dalamnya. Mulai dari ketan hitam dan putih, ubi merah, pisang kepok, bubur sumsum, kacang hijau, pacar cina, srikaya, santan serta gula merah. Jadi rasanya campur aduk namun nikmat serta gurih. Kunci kelezatan bubur ini terletak pada jumlah santan yang digunakan pada saat memasaknya. Karena fungsi santan mengikat komposisi macam-macam bahan lain dalam bubur ini sehingga rasanya tetap satu. Oh iya soal harga juga tidak terlalu mahal, kemarin saya mendapatkan Bubur Kampiun ini di Pasar Takjil di Benhil dengan harga Rp. 8.000 saja. (Roy)

  • Uncategories
  • Bubur Kampiun
26 Juli 2012 - 17:08:26 WIB Dibaca : 197

Bubur Kampiun Bagi yang berasal dari daerah Sumatera Barat pastinya sudah tidak asing lagi dengan bubur yang satu in,i Bubur Kampiun namanya. Orang Minang/ Padang akrab menyebutnya Bubua Kampiun. Bubur ini tidak hanya terkenal di wilayah Sumatera Barat dan sekitarnya saja melainkan di Jakarta pun banyak orang yang mengenal bubur yang pada umumnya baru akan hadir serta di jual pada bulan Ramadhan saja. Jadi bubur ini bisa dikatakan kuliner spesial bulan puasa. Bubur kampiun merupakan pilihan tepat sebagai salah satu menu buka puasa anda, karena di samping manis serta gurih juga cukup mengenyangkan. Asal usul bubur ini cukup panjang juga ceritanya. Pada awal 1960-an, pasca perang PRRI (Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia, 1958-1961) dimana banyak masyarakat yang masih trauma akibat pergolakan, untuk menghilangkan trauma tersebut dan mengembalikan keadaan ke kondisi semula maka para Ninik-Mamak/ Tokoh Adat dan Masyarakat di desa Jambuair-Banuhampu, Bukittinggi mengadakan beberapa perlombaan. Salah satunya lomba kreasi membuat bubur. Ada seorang nenek Amai Zona

Komentar Beri Komentar