Register Login
yang berharga dan memberikan kesan tersendiri bagi mereka. Terutama bagi yang baru kali pertama melihatnya. Akan menjadi pelajaran dan pengalaman berharga. Terlihat dari kejauhan bangunan Lubang Buaya seperti pendopo karena di atasnya diberi cungkup. Sekedar melongok ke lubang tersebut, tanah di seputar bibir sumur berwarna merah kecoklatan dan kering. Mengingat usia yang usang, maka di sekitar lubang berdiameter 75 centimeter itu dikelilingi lantai marmer putih kilap. Salah satunya untuk mencegah amblasnya lubang tersebut. Di atas lubang tergantung cermin. Fungsinya bagi pengunjung yang ingin menatap dasar sumur. Di sana sudah diberi pelita. Tak ada apa-apa dalam sumur yang memiliki kedalaman 12 meter tersebut. Baik itu air maupun rumput yang tumbuh. Monumen ini diresmikan 1973. Setelah puas mengamati lubang tersebut, tak jauh terlihat patung-patung ketujuh korban yang dikubur dalam Lubang Buaya tersebut. Patung-patung itu berjajar hingga membentuk setengah lingkaran dengan patung Burung Garuda di belakangnya. Mulai dari Mayor Jenderal TNI Anumerta Sutoyo Siswomiharjo, Mayor Jenderal Anumerta Donald Isaac Panjaitan, Letnan Jenderal Anumerta Siswondo Parman, Jenderal TNI Anumerta Achmad Yani, Letnan Jenderal Anumerta Raden Suprapto, Letnan Jenderal Anumerta Mas Tirtodarmo Haryono dan Kapten (Anumerta) Pierre Andreas Tendean. Salah satunya, patung Jenderal TNI Anumerta Achmad Yani mewakili ketujuh jenderal sedang menunjukkan arah lubang yang mana mereka semua dimasukkan ke dalamnya. Lokasinya kini sudah terlihat indah mempesona. Telunjuk tangan patung Jenderal TNI Anumerta Achmad Yani ke arah sumur Lubang Buaya seolah ingin mengatakan "Di sanalah kami mati dan dikubur." Tak sampai di situ. Saya pun melanjutkan perjalanan. Sebab, tak jauh dari situ, terdengar suara dari sebuah rumah. Ya itulah rumah yang dijadikan sebagai lokasi penyiksaan korban sebelum dikubur dalam Lubang Buaya. Tampak jelas diorama empat korban yang sedang menjalani penyiksaan. Di antaranya Letnan Jenderal Anumerta Siswondo Parman, Letnan Jenderal Anumerta Raden Suprapto, Mayor Jenderal TNI Anumerta Sutoyo Siswomiharjo, dan Kapten (Anumerta) Pierre Andreas Tendean. Diiringi suara yang menceritakan perjalanan dari kali pertama memasuki lingkungan Lubang Buaya hingga akhir hayatnya. Selain diorama jenderal juga ada beberapa anggota PKI yang sedang melakukan penyiksaan. Walau sudah banyak yang direnovasi di beberapa titik mengingat usia bangunan, namun tak menghilangkan estetika keasliannya. Sementara ketiga korban lainnya, yakni Jenderal TNI Anumerta Achmad Yani, Letnan Jenderal Anumerta Mas Tirtodarmo Haryono, dan Mayor Jenderal Anumerta Donald Isaac Panjaitan dikabarkan sudah meninggal terlebih dahulu (ditembak di lokasi) ketika dijemput oleh kawanan PKI. Terdapat 18 patung dalam ruangan tersebut. Di antaranya, patung jenderal yang sedang disiksa. Juga berdiri empat patung perempuan aktivis Gerwani. Salah satunya mengenakan busana tradisional kebaya putih berbunga-bunga kecil, sarung batik, dengan rambut panjang terurai. Sambil memegang pentungan dengan sorot mata bengis. Semua terlihat jelas dari tiga sisi jendela yang terbuka. Bertolak dari sana, terdapat dua bangunan lain yang berdekatan. Yakni bangunan yang dipergunakan sebagai pos komando dan dapur umum. Di dalam pos komando sendiri masih terdapat barang-barang peninggalan, di antaranya meja/kursi, almari, tempat tidur, mesin jahit, bufet, balai (kamar depan). Sementara replika sendiri terdiri dari lampu petromans, tempayan, lampu tempel, dan balai (ruang belakang). Semua barang tersebut masih dijaga dan dilestarikan hingga kini. Kini, Lubang Buaya benar-benar tinggal sebagai saksi bisu. Slogan yang tertera dalam Lubang Buaya, yang berbunyi "Tjita2 perdjuangan kami untuk menegakkan pantja-sila tidak mungkin dipatahkan hanja dengan mengubur kami dalam sumur ini. lobang buaja, 1 oktober 1965" seolah menyiratkan bahwa itulah salah satu bukti atas peristiwa yang terjadi 1 Oktober 1965. Semoga ini menjadi salah satu pembelajaran berharga dalam sebuah sejarah bangsa ini. Dengan peristiwa berdarah tersebut, masyarakat akan lebih paham akan arti pentingnya kesatuan dan persatuan dalam membangun dan menjaga keutuhan Indonesia. Selain ketujuh korban tewas tersebut, sebagaimana kabar yang beredar terdapat korban tewas lain dalam peristiwa G 30S PKI. Yakni, Brigadir Jenderal Anumerta Katamso Dharmokusumo (Komandan Korem 072/Pamungkas, Yogyakarta), Kolonel Anumerta Sugiyono Mangunwiyoto (Kepala Staf Korem 072/Pamungkas, Yogyakarta), AIP II Karel Satsuit Tubun (Pengawal kediaman resmi Wakil Perdana Menteri II dr.J. Leimena), dan putri Jenderal TNI Abdul Harris Nasution, Ade Irma Suryani Nasution. Sementara Jenderal TNI Abdul Harris Nasution yang dikabarkan menjadi target utama justru selamat dari upaya pembunuhan. Ingat, akan pernyataan Soekarno. Bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang mengenang jasa para pahlawannya. Jangan sekali-kali melupakan sejarah (Jas Merah).(Firman)


  • Uncategories
  • Monumen Pancasila Sakti
07 Juli 2011 - 15:49:35 WIB Dibaca : 176

Tenang, sepi, dan sunyi. Itu yang saya rasakan ketika memasuki pelataran Monumen Pancasila Sakti. Jajaran pohon-pohon tinggi menjulang menjadi salah satu alasan lokasi yang berada di Jalan Pondok Gede Raya itu terasa sejuk. Sekaligus saksi bisu atas tragedi 1965. Peristiwa yang menewaskan beberapa manusia dan mendapat gelar Pahlawan Revolusi. Pahlawan yang gugur dalam mempertahankan Pancasila. Pemberontakan Partai Komunis Indonesia (PKI) yang biasa disebut dengan Gerakan 30 September (G 30 S/PKI). Ibu pertiwi meneteskan air mata. Darah bercucuran demi membela tanah air tercinta. Tak pantang menyerah. Sebagaimana slogan yang terpampang di balik gerbang masuk "Pertahankan Pancasila Sampai Ke Liang Kubur" maupun "Anda Meninggalkan Monumen Pancasila Sakti, Bukan Berarti Anda Melupakan Peristiwa Sejarah Pengkhianatan G 30 S/PKI". Terlepas dari perpolitikan pada masa itu, Monumen Pancasila Sakti di kawasan Pondok Gede ini menyimpan sejarah. Sejarah yang saat ini menjadi saksi bisu. Bisu seperti suasana saya memasuki wilayah Lubang Buaya. Senyap terasa di siang bolong walau terlihat rombongan pengunjung sibuk berdatangan untuk melihat-lihat sejarah Lubang Buaya. Sepanjang jalan menuju monumen, tertata rapih pohon-pohon yang rindang. Sejuk untuk pengunjung beristirahat maupun sekedar duduk-duduk santai. Walau di beberapa sudut terpantau reruntuhan daun yang belum dibersihkan. Lubang Buaya sendiri berada di Desa Buaya, Kecamatan Cipayung, Jakarta Timur, Sebelah timur terdapat Pasar Pondok Gede, di sisi selatan markas besar Tentara Nasional Indonesia Cilangkap, Taman Mini Indonesia Indah sebelah barat, dan Lapangan Udara Halim Perdanakusuma di utaranya. Karcis yang saya beli tergolong murah untuk melihat dan mengenang sejarah di masa silam. Terlihatlah halaman yang cukup luas di wilayah itu. Tertata rapih dan bersih. Juga berdiri satu tiang bendera yang telah dipersiapkan. Ya itu akan digunakan sebagai lapangan upacara dalam rangka memperingati Hari Kesaktian Pancasila yang jatuh setiap 1 Oktober. Sekarang suasana sudah begitu asri, walau masih terlihat beberapa benda asli saat peristiwa pemberontakan berlangsung di Lubang Buaya. Inilah nilai sejarah yang mesti dipelihara dan dilestarikan untuk anak cucu kita di masa mendatang. Supaya mengetahui berbagai peristiwa di masa lalu. Kali pertama menaiki tangga lantai menuju sumur maut yakni Lubang Buaya, terlihat banyak pengunjung yang menyambangi sekaligus mengenang peristiwa di masa lalu. Hampir mayoritas dari mereka berasal dari luar kota. Dan mereka terlihat bersemangat untuk menyaksikan berbagai benda peninggalan yang menjadi saksi bisu. Beberapa orang di antaranya berfoto, duduk santai, atau melihat lubang tersebut. Mereka masing-masing sibuk dengan apa yang dilihatnya. Suatu pengalaman

Komentar Beri Komentar